Obama dukung Palestina, Netanyahu uring-uringan

Berharap Donald Trump lebih menguntungkan bagi Israel

PM Israel Benyamin Netanyahu marah besar kepada Presiden AS Barack Obama karena mendukung Palestina di PBB./*ist

JURNAL3 | TEL AVIV – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu semakin membabi buta mengkritik Presiden Amerika Serikat Barack Obama karena mendukung resolusi Dewan Keamanan PBB yang mendesak Israel untuk menghentikan pembangunan pemukiman di wilayah rampasan.

Netanyahu nampak tidak bisa menahan diri karena masa kepresidenan Obama, yang telah memberi bantuan militer senilai 38 juta dolar AS kepada Israel, akan segera berakhir dan digantikan oleh tokoh yang lebih bersahabat, Donald Trump.

Setelah tercapainya keputusan Dewan Keamanan PBB yang dinilai sebagai kekalahan Israel di pentas internasional, Netanyahu merespon dengan meminta dukungan dari dalam negeri.

Kepada warganya sendiri, dia mengatakan bahwa komunitas internasional terlalu berlebihan dalam mengkritik kebijakan Israel terhadap Palestina.

Dia menggambarkan, resolusi yang anti terhadap pemukiman Yahudi dari Dewan Keamanan adalah sebuah penghinaan bagi kedaulatan Israel dan Yerusalem sebagai ibu kotanya.

Dia mengatakan hal tersebut saat melakukan kunjungan mendadak pada Hari Raya Pentahbisan di Tembok Ratapan, salah satu tempat paling suci bagi kaum Yahudi, yang berlokasi di Kota Tua Yerusalem dan merupakan daerah rampasan Israel saat memenangi perang 1967.

Yerusalem, dalam pandangan sebagian besar warga Israel, adalah ibu kota yang tidak bisa dibagi menjadi dua sebagaimana usulan solusi dua negara. Pendapat itu diamini oleh warga yang bahkan menolak pembangunan pemukiman di atas tanah rampasan Tepi Barat.

Di sisi lain, Palestina juga menuntut wilayah timur Yerusalem sebagai ibu kota, sementara Amerika Serikat dan komunitas internasional mendesak agar kedua pihak merundingkan pembagian kota suci itu.

Trump sendiri berjanji akan mengubah kebijakan pembagian wilayah itu dengan memindahkan kantor kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem dan dengan demikian mengakui bahwa keseluruhan wilayah Yerusalem adalah milik Israel.

“Saya tidak berencana melakukan kunjungan pada sore ini. Namun di tengah munculnya resolusi PBB, saya berpikir bahwa tidak ada tempat yang lebih baik untuk menyalakan lilin di Tembok Ratapan bertepatan dengan Hari Raya Pentahbisan,” kata Netanyahu.

“Saya bertanya kepada negara-negara yang mengucapkan selamat Hari Raya Pentahbisan kepada kami: bagaimana bisa kalian meloloskan resolusi PBB yang mengatakan bahwa tempat ini adalah wilayah rampasan?” kata Netanyahu.

Saat ini, sekitar 570.000 warga Israel tinggal di wilayah timur Yerusalem dan Tepi Barat, yang merupakan bagian dari negara Palestina di masa mendatang.

Pada Senin, Netanyahu menuding Obama telah melakukan konspirasi dengan Palestina di PBB untuk menggagalkan program pembangunan pemukiman bagi warga Yahudi di wilayah rampasan.

Dunia internasional sendiri sudah lama menganggap program pemukiman sebagai hal yang ilegal. Namun baru kali ini Dewan Keamanan PBB meloloskan resolusi yang mengecam program tersebut, karena upaya yang sama pada tahun-tahun lalu selalu gagal oleh veto dari Amerika Serikat.

Sebagai balasan atas resolusi Dewan Keamanan, Netanyahu memerintahkan agar anggota kabinetnya membatasi kunjungan ke negara pendukung resolusi sampai Trump resmi menjadi presiden Amerika Serikat pada 20 Januari mendatang.

Pada Kamis pekan lalu, Netanyahu sempat sukses melobi Mesir yang merupakan pengusul resolusi untuk membatalkan niatnya membawa persoalan pemukiman ke Dewan Keamanan.

Namun, pemimpin Israel itu kalah dalam manuver karena Selandia Baru, Venezuela, Senegal, dan Malaysia menyerahkan usulan tersebut satu hari kemudian.

Usulan resolusi itu kemudian memperoleh hasil voting 14-0 dan Amerika Serikat menyatakan abstain. Sejumlah pengamat mengatakan bahwa Obama sengaja tidak menggunakan hak veto karena sudah tidak lagi harus mempertimbangkan politik dalam negeri. Banyak keputusan besar yang diambil presiden dalam masa tenggang seperti yang dialami Obama.

Seorang sumber dari pemerintahan Amerika Serikat mengatakan beralasan mereka mengambil sikap abstain karena pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah masa depan Palestina akan semakin menyulitkan tercapainya solusi dua negara.

Resolusi yang disepakati pada Jumat itu sebenarnya tidak banyak berpengaruh terhadap Israel karena Dewan Keamanan tidak menjatuhkan sanksi.

Namun Israel khawatir resolusi itu bisa menjadi senjata Palestina di panggung internasional.

“Pemerintahan Obama telah mengambil tindakan yang memalukan,” kata Netanyahu.@abs

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*