Mengapa Kini Putra Indonesia Layak Menerima Nobel?

Oleh : Dhenok Kristianti

Kasus Denny JA dan Pramoedya Ananta Toer

Penghargaan Nobel diberikan kepada orang yang paling banyak berkontribusi bagi dunia, terutama di bidang fisika, kimia, kedokteran, perdamaian, sastra, dan ekonomi. Peraih hadiah yang prestisius ini akan tercatat sebagai orang-orang terbaik di bidangnya yang jasanya dipandang cukup besar bagi dunia.

Itu sebabnya Indonesia patut berbesar hati ketika pada tahun ini komunitas puisi esai secara resmi diundang oleh Swedish Academy, Nobel Commiittee, untuk mencalonkan sastrawan Indonesia.

Berkaitan dengan itu, Koordinator Pelaksana Komunitas Puisi Esai Indonesia, Irsyad Mohamad berpendapat bahwa, Denny JA merupakan calon yang paling kuat. Dengan demikian, dalam perjalanan sejarah Indonesia hingga saat ini, ada 2 putra Indonesia yang pernah masuk dalam bursa kandidat penerima nobel bidang sastra: Pramoedya Ananta Toer dan Denny JA.

Pertanyaan tentu muncul, mengapa Pramoedya dan Denny JA dipandang pantas menjadi kandidat penerima nobel? Apa sumbangsih kedua tokoh ini bagi masyarakat?

Kita pun tergelitik menelusurinya, meninjau karya-karya mereka, dan menimbang seberapa besar pengaruh pemikiran-pemikiran mereka bagi dunia sastra, baik di Indonesia maupun di dunia.

Melalui karya-karya Pramoedya Ananta Toer, terutama dalam tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), kita melihat ada gagasan besar yang diperjuangkan Pram. Yaitu konsep hidup bermasyarakat dan bernegara. Setidaknya ada tiga ide yang dimasukkan Pram dalam novel-novelnya: penghapusan rasialisme, feodalisme, dan kolonialisme.

Pemikiran-pemikiran tersebut jika diejawantahkan dalam kehidupan, niscaya kedamaian dapat dicapai. Dan itulah yang dibutuhkan, tak hanya oleh Indonesia, tetapi juga seluruh negara di dunia mendambakan kedamaian; terlepas dari rasisme, terbebas dari kungkungan feodalisme, dan merdeka dari kolonialisme!

Bagaimana dengan Denny JA? Mari kita tinjau pemikiran-pemikiran yang dituangkan ke dalam karya-karyanya.

Pertama, gagasan tentang antidiskriminasi yang digaungkan dari waktu ke waktu. Ini merupakan jawaban atas banyak persoalan yang kerap terjadi di Indonesia, bahkan dunia.

Betapa banyak perselisihan, perseteruan, dan peperangan yang bergolak karena terjadinya diskriminasi antarsuku, ras, serta agama. Perbedaan menjadi malapetaka, hak asasi individu diinjak-injak, demokrasi macet, sehingga kata damai menjadi barang mewah yang sulit ditemui, apalagi dirasakan.

Sikap Denny JA yang tegas menolak diskriminasi, tercermin dalam serangkaian puisi esai yang ditulis. Misalnya dalam Romi dan Yuli dari Cikeusik, Denny menyoroti kisah cinta tragis sepasang kekasih yang berasal dari keluarga dengan keyakinan berbeda.

Agama yang dianut dua keluarga ini sebenarnya sama-sama Islam, namun berbeda aliran. Romi anak pengurus Ahmadiyah, sedangkan Yuli anak pengurus organisasi Islam yang dianggap garis keras, anti-Ahmadiyah. Konflik dalam puisi esai ini menunjukkan terjadinya diskriminasi di Indonesia, khususnya dalam soal agama, yang jarang dibicarakan secara terbuka.

Kebutuhan ekspresi untuk menyuarakan sikapnya, mendorong Denny JA menuliskannya dalam puisi esai.

Melalui puisi esai ini dan tulisan-tulisan Denny JA lainnya, pembaca dapat melihat bahwa Denny JA sangat punya nyali dalam melawan Islam radikal. Keberaniannya yang dibungkus dan ditata dengan bahasa sastra, membuat karya-karyanya mengesankan.

Sebagai bagian dari “minoritas” di Indonesia, saya secara pribadi angkat topi pada Denny JA yang mampu bersikap adil dalam memandang agama. Ia menulis yang baik adalah baik, dan yang buruk adalah buruk; tak ada kompromi yang menyesatkan demi pencitraan.

Yang disoroti Denny JA tak hanya diskriminasi agama, tetapi juga diskriminasi suku dan hak asasi. Dalam puisi esai Saputangan Fang Yin, diangkat peristiwa 1998, ketika suku Tiong Hoa di Indonesia dijadikan ‘kambing paling hitam’ dalam resesi ekonomi yang melanda. Mereka pun dianiaya, bahkan banyak gadis-gadis Tiong Hoa yang menjadi korban kerusuhan rasial pada masa itu.

Dalam puisi esainya, Denny JA menciptakan tokoh Fang Yin, gadis Tiong Hoa yang menerima perlakuan diskriminatif itu hingga mengalami trauma berkepanjangan.

Apa arti Indonesia bagiku? bisik Fang Yin
Kepada dirinya sendiri
Yang hidupnya sudah dirampas
Yang tak lagi bisa merasakan sejuknya angin
Sebab kebahagiaannya tinggal ampas
Meskipun dalam puisi esai-puisi esai yang ditulisnya Denny JA tidak memakai diksi-diksi keras dalam menyampaikan maksud, namun pembaca dapat menangkap prinsip-pinsip antidiskriminasi yang menjiwai karyanya.

Justru di sinilah kematangan seorang Denny JA dalam menulis karya sastra, utamanya bentuk puisi esai. Sikap penyair yang tidak setuju pada suatu hal, dapat dikemukakan dengan nada sarkas, nada ironi, maupun nada sedih. Denny JA rupanya memilih nada-nada ironi dan melankoli.

Pilihan ini efektif untuk mempengaruhi perasaan pembaca, sehingga larut pada kisah yang dipuisikan; dan pada gilirannya mampu mengambil sikap pro terhadap pandangan antidiskriminasi.

Tidak hanya dalam dua puisi esai itu Denny JA ‘menebar virus’ antidiskriminasi. Dalam puisi esai yang lain, tema ini terus berulang dengan balutan peristiwa yang berbeda. Misalnya dalam puisi esai Minah Tetap Dipancung, Cinta Terlarang Batman dan Robin, serta Bunga Kering Perpisahan, semua mengungkap pemikiran tentang antidiskriminasi.

Bahkan pada banyak puisi esai yang ditulis kemudian, Denny JA masih sangat intens mengangkat isu ini.
Tentu isu antidiskriminasi juga pernah ditulis orang lain, namun konsistensi pengarang lain untuk memperjuangkan masalah ini dalam karya-karya mereka tampaknya bersifat timbul tenggelam. Sementara Denny JA sangat konsisten menyuarakan hal tersebut.

Ini terbukti dengan banyaknya puisi esai, bahkan esai-esai Denny JA yang mengetengahkan sikapnya yang antidiskriminasi. Konsistensi ini sangat penting dan bisa jadi merupakan penilaian tersendiri bagi para calon penerima nobel.

Dengan konsistensi yang ditunjukkan, tim penilai akan lebih mudah memahami ‘isi kepala’ dan kesungguhan kandidat dalam menyuarakan prinsip-prinsipnya.

Di sini, karya sastra tak sekadar dinilai dari kreativitas bahasa dan alur, namun secara menyeluruh menjadi pertimbangan, baik tampilan maupun isinya.

Hal lain yang membuat Denny JA layak diundang sebagai kandidat penerima nobel adalah unsur kebaruan bentuk puisi esai yang diusungnya. Dengan puisi esai, ia berhasil membawa puisi “ke tengah gelanggang”. Artinya, puisi tidak lagi berorientasi pada peliknya kata-kata dan ekspresi diri secara personal, tetapi menjadi “makanan bergizi”.

Dengan demikian puisi mencapai tujuannya, yakni bermanfaat bagi masyarakat luas karena mudah dicerna, dan tidak kehilangan unsur keindahan yang menjadi ciri khasnya sebagai karya sastra.

Demikianlah beberapa hal yang merupakan pemikiran mengapa Denny JA layak diunggulkan sebagai kandidat penerima nobel. Kita sebagai masyarakat Indonesia boleh bangga dengan pencalonan ini sebab ini membuktikan bahwa Indonesia bukan “negara pinggiran” dalam percaturan ilmu pengetahuan, demokrasi, ekonomi, dan kebudayaan dunia.

*Penulis adalah seorang penyair ternama di Indonesia

Share this…
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*