Akhir dari Dualisme di Organisasi Penulis

Dok. Istimewa

Oleh : Irsyad Mohamad

A Lesson To Learn dari Satupena “Teman- teman di sana itu penulis, bukan politisi. Pada waktunya mereka akan mengubah nama organisasinya.”

Ini kalimat yang Denny JA ucapkan di bulan Agustus 2021, lima bulan lalu ketika ditanya soal organisasi penulis lain, yang menggunakan nama yang sama.

Saat itu, Denny baru saja dipilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum Pekumpulan Penulis, Persatuan Penulis Indonesia (SATUPENA).

Masalahnya, di detik pertama ia menjadi Ketua Umum Satupena, ada pula organisasi penulis yang namanya sama persis. Identik. Tak beda satu hurufpun. Tak beda satu titik.

Namanya sama-sama Persatuan Penulis Indonesia: Satupena. Logonya juga sama identik simbol pena. Bahkan juga menggunakan akte notaris yang sama persis pula.

Mereka lebih dahulu melakukan kongres dan memiliki ketua umum baru.

Astaga! Bagaimana mungkin satu nama, satu akte, tapi memiliki dua ketua umum yang berbeda? Dua-duanya dipilih melalui kongres yang diklaim sah secara hukum.

Bagi saya, tak ada masalah Indonesia memiliki lebih dari satu asosiasi nasional untuk penulis, Writers Guild. Tapi jika nama organisasinya sama, logonya sama; aktenya sama, bukankah ini membingungkan banyak anggota, media, dan pihak ketiga lainnya?

Hari ini tanggal 22 Januari 2022, sekitar 5 bulan setelah organisasi Satupena pecah dua, saya mendapatkan kiriman screenshoot. Pihak sana mengganti nama organisasi.

Mereka tak lagi menggunakan nama Persatuan Penulis Indonesia (Satupena). Nama lain kini mereka gunakan. Persis seperti yang Denny prediksi ketika pertama kali memimpin asosiasi penulis ini.

Kini Satupena kembali menjadi satu-satunya nama yang ada. Hanya ada Satupena pimpinan Denny JA.

Tak ada lagi dualisme kepengurusan. Tak ada lagi dualisme logo. Tak ada lagi kebingungan anggota, media, dan publik luas. Ini terjadi lebih cepat dibandingkan yang saya duga.

Pertanyaan pun kembali datang: apa yang membuat mereka akhirnya mengubah nama? Bukankah dulu mereka militan sekali merasa memiliki nama Satupena itu secara historik.

Jawabnya itu gabungan antara keterpaksaan dan kearifan. Jika tidak terpaksa, mereka tak akan mengganti nama. Tapi jika tak ada kearifan, mereka akan terus ngotot karena merasa “membela yang benar,” hingga “tetes darah penghabisan.”

Mengapa mereka terpaksa? Secara hukum, mereka sudah dikalahkan. Menkumham sudah meresmikan akte notaris Satupena versi Denny JA

Mereka masih bertahan dengan memegang copyright logo Satupena. Namun secara hukum, Copyrights atas logo itu juga dilawan dan mereka akan kembali dikalahkan.

Tak hanya kalah secara hukum, namun juga kalah dalam publikasi. Satupena Denny JA maju dengan banyak sekali program unggulan. Mulai dari penerbitan 100 buku yang mempengaruhi Indonesia sejak era kolonial.

Juga diluncurkan TV untuk penulis, all about writers di Youtube. Satupena Denny JA juga bekerjasama dengan perhimpunan penerbit Indonesia dan persatuan ahli hukum soal copyrights membuat kebijakan melawan pembajakan.

Belum lagi webinar untuk penulis. Ini diskusi yang membahas buku dan peristiwa yang bermakna di dunia tulis-menulis. Sejak awal hingga kini, webinar terselenggara setiap minggu.

Denny JA juga mengembangkan sayapnya ke 34 provinsi. Pengurus satupena di 34 provinsi sudah disiapkan. Denny pun membentuk komunitas book and music yang akan ditumbuhkan di 34 provinsi.

Akibatnya Satupena identik dengan Satupena dengan Ketua Umum Denny JA.

Dalam situasi seperti ini, apa yang tersisa? Jika mereka bertahan dengan nama Satupena, mereka tak pernah mendapatkan legalitas hukum dalam akte notaris.

Mereka hanya dikenang sebagai cabang Satupena dari Satupena pimpinan Denny JA.

Keterpaksaan melahirkan kearifan. Mereka pun berganti nama di akhir Januari 2022. Nama Satupena kembali hanya milik satu organisasi saja. Dualisme kepengurusan berakhir jauh lebih cepat dibanding yang saya duga.

Apa lesson to learn dari peristiwa ini? Menjadi penulis yang baik adalah satu hal. Namun membangun organisasi penulis yang massif dan produktif itu hal yang lain.

Organisasi skala Indonesia tak hanya membutuhkan visi dan leadership. Ia juga membutuhkan dana yang cukup. Tanpa visi, leadership, dan dana yang cukup, three in Buone, organisasi apapun hanya berhenti di tingkat gagasan saja.

Tapi di atas semua, para penulis perlu saling dukung untuk kepentingan bersama, menciptakan ekosistem yang kokoh bagi para penulis. Saat itulah dibutuhkan organisasi penulis yang kokoh, visioner dan bersatu.

*Penulis adalah Copywriter di PT. Dua Rajawali Perkasa Network | Universitas Indonesia (UI).

Share this…
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*