Nasionalisme Vaksin Merah Putih, Perang Dingin Industri Vaksin Global

Oleh : Wijianto, SE.

Rabu, 9 Februari 2022 merupakan hari bersejarah bagi putera puteri Indonesia dimana awal mula mulai diperkenalkan dan uji klinis Vaksin yang bernama Vaksin Merah Putih. Vaksin Merah Putih diproduksi oleh Universitas Airlangga Surabaya dan PT Biotis yang telah memasuki masa uji klinis pada hari kemarin, Rabu (9/2). Seremoni uji klinis dilakukan di Taman Kirana RSUD Soetomo, Surabaya. Di kampus Universitas Airlangga kita menyaksikan banyak karya para penelitinya yang menghasilkan temuan penting di berbagai bidang terutama di bidang kesehatan dan juga vaksin. Kitalah anak bangsa dimana para Ksatria Airlangga yang berada di dalamnya berkewajiban untuk memberitakan kemampuan hebat anak bangsa. Oleh karena itu, diperlukannya pemberian informasi pada generasi baru kita secara seimbang.

Dalam satu hal kita pernah melihat bahwasanya sejarah hanya diciptakan oleh yang berkuasa atau pemenang dalam sejarah itu sendiri. History has been writen by the victors, atau yang berarti “sejarah selalu ditulis oleh para pemenang” merupakan adagium yang konon pertama diungkapkan oleh Winston Chruchil adalah yang paling mendominasi dalam hal pernyataan modern dan Post Modern mengenai natur dari sebuah sejarah.

Berita-Berita Tentang Negara Berkembang

Berita-berita tentang negara-negara berkembang seperti Indonesia sejak dulu juga dinarasikan lebih banyak hal negatif daripada yang positif. Misalkan baru-baru ini ketika negara Korea Selatan meluncurkan pesawat tempur canggih KAI KF-21 Boramae yang merupakan kerja sama antara Korea Selatan dengan Indonesia, isi dari beritanya lebih banyak fokus pada kemampuan Korea Selatan membuat pesawat tempur canggih. Sementara berita tentang Indonesia sedikit sekali dan hanya berfokus pada ketidaksanggupan Indonesia membayar saham 20 persen dalam kerja sama itu dimana hal ini mendapatkan kritikan keras dari pihak Korea Selatan.

Cara Menangani Pandemi covid-19 saat ini

Dalam menangani pandemi Covid-19 saat ini juga terjadi narasi pemberitaan yang berat sebelah. Pihak Amerika Serikat dan Eropa selalu mengunggulkan temuan vaksin mereka dengan berbagai penjelasan ilmiah, dan memarginalkan vaksin temuan Rusia yaitu Sputnik V. Putin membela produk Rusia ini berdasarkan pendapat para ahli penyakit menular Universitas Kedokteran Wina dan Ketua Lembaga Penyakit Menular dan Pengobatan Tropis Austria, Florian Thalhammer, yang mengakui keunggulan Vaksin Sputnik V. Bahkan Putin menggambarkan bahwa ketangguhan Sputnik V ini seperti senjata serbu buatan Rusian yang terkenal di dunia yakni Avtomat Kalashnikova 47 atau AK 47. Pihak Amerika Serikat juga mengancam negara-negara sekutunya agar tidak membeli vaksin buatan Rusia.

Vaksin Merah Putih (VMP) 2022

Vaksin merah putih (VMP) pada 2022 saat Ini akan menjadi salah satu katalis positif bagi Negara Indonesia ke depan terutama untuk keluar dari dampak Pandemi. Kehadiran vaksin buatan dalam negeri tersebut akan memberikan sinyal bahwasanya Putera Puteri Indonesia mampu menciptakan vaksin sendiri dan berdaulat dalam bidang Kesehatan sehingga menjadi negara Mandiri dalam hal apapun, utamanya menekan impor dari sisi produk kesehatan.

Yang sangat menarik, presidensi G20 Melalui pemilihan tema besar “Recover Together, Recover Stronger” atau “Pulih Bersama, Pulih Lebih Kuat”, Indonesia hendak mengajak seluruh dunia tanpa terkecuali untuk saling mendukung, bahu membahu, dan gotong royong untuk pulih dari dampak pandemi Covid-19 dan tumbuh lebih kuat.

Presidensi G20 Indonesia berkomitmen pada pertumbuhan yang inklusif, people-centered, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Tema besar ini memang sangat khas dengan nilai-nilai dan kepribadian bangsa Indonesia, yaitu konsep gotong royong. Pencapaian target-target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan juga meniscayakan gotong royong.

Pandemi Covid-19 yang memukul hampir semua sektor kehidupan membangkitkan kembali kesadaran akan nilai gotong royong. Di tengah situasi krisis akibat pandemi Covid-19, di era yang sering kita sebut dengan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), gotong royong bagai suluh di tengah gelap, bukan hanya untuk Indonesia tapi juga untuk dunia.

Perang Dingin Industri Vaksin

Perang Dingin terjadi pada tahun 1947 setelah Perang Dunia II berakhir, ketika hubungan AS dengan Uni Soviet memburuk setelah bersekutu dalam blok Poros. Ini terjadi karena Perang Dingin adalah persaingan Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet dalam merebut pengaruh negara lain, guna memperkuat bloknya masing-masing. Persaingan Perang Dingin meliputi berbagai bidang seperti senjata atom, perekonomian, kebijakan luar negeri, hingga teknologi luar angkasa.

Pada 4 Oktober 1957, Soviet meluncurkan Sputnik yang artinya “teman perjalanan”, yaitu satelit pertama buatan manusia yang ditempatkan di orbit Bumi. Peluncuran Sputnik membuat Amerika geram, dan karena tidak mau kalah, pada 1958 AS meluncurkan satelitnya sendiri, Explorer I, yang dirancang oleh Angkatan Darat AS di bawah awahan ilmuwan roket Wernher von Braun. Pada tahun yang sama, presiden Dwight Eisenhower menandatangani perintah umum untuk mendirikan Natioan Aeronautics and Space Administration (NASA). Soviet kembali membalasnya dengan menerbangkan manusia pertama ke luar angkasa pada April 1961. Pada Mei 1961 Alan Shepard menjadi orang Amerika pertama di luar angkasa. John F Kennedy kemudian berjanji akan mendaratkan manusia di bulan pada akhir periode itu, dan diwujudkan oleh Neil Armstrong.

Pada saat ini seolah menggambarkan adanya Perang Dingin Tersebut dengan saling berlomba-lomba di bidang Teknologi terutama pada Kesehatan dan Ekonomi. Persaingan penemuan Vaksin Covid-19 menandai babak baru perlombaan senjata global. China, Eropa, dan Amerika Serikat (AS) telah menginvestasikan miliaran dolar dan mengerahkan para ilmuwannya untuk menjadi yang pertama untuk memproduksi vaksin. Negara yang menang akan mendapatkan langkah awal untuk melindungi warganya dan memulai kembali ekonominya.

Persaingan ini digambarkan Washington Post sebagai ‘Momen Sputnik’ yang mengingatkan perlombaan ruang angkasa antara Rusia dan AS usai peluncuran Sputnik pada 1957. Kini China yang menjadi lawan tangguh AS dalam perang global melawan Covid-19. Apalagi kedua negara tersebut telah bertahun-tahun berlomba dalam penelitian biomedis. Sejak Covid-19 pertama kali menyebar di Wuhan, China telah melakukan serangkaian uji coba vaksin dan mendekati tahap akhir seperti dikembangkan perusahaan bioteknologi Sinovac.

Banyak pakar kesehatan mulai mencemaskan nada nasionalisme dan proxy dalam penemuan vaksin untuk senjata geopolitik. Pasalnya hal itu bisa mempersulit upaya memberantas virus dalam waktu dekat, memicu proteksionisme, dan mengganggu rantai pasokan medis lainnya. Pada akhirnya mengancam upaya memproduksi dan mendistribusikan vaksin secara adil. Beberapa negara dan lembaga nirlaba mulai mengambil inisiatif diplomasi vaksin.

Awal Juni lalu, Inggris menjadi tuan rumah Global Vaccine Summit 2020. Konferensi tingkat tinggi ini berhasil mengumpulkan lebih dari US$ 8,8 miliar dari 31 pemerintah donor dan delapan yayasan, perusahaan dan organisasi untuk mengimunisasi 300 juta anak-anak di seluruh dunia dan mendukung kerja aliansi vaksin untuk memastikan akses universal ke vaksin Covid-19.

Yang memprihatinkan adalah banyak negara yang mengklaim vaksin temuannya paling efektik untuk menanggulangi penyakit Covid-19, disisi lain negara kita masih bergantung pada vaksin impor dan menganaktirikan atau bahkan mempersulit terproduksinya vaksin. Pada akhirnya tidak tercipta rasa kepercayaan terhadap produk asli buatan negeri yang nantinya kemandirian dan kedaulatan di bidang Kesehatan dan Ekonomi hanya bersifat utopia saja.
Vaksinasi jadi Katalis Positif Ekonomi Untuk Pembangunan Berkelanjutan

Indonesia saat ini masih terkena dampak sosial dan ekonomi dari wabah virus corona. Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2022 berada pada kisaran 5,2 hingga 5,8 persen. Asumsi tersebut mempertimbangkan berbagai dinamika ekonomi global dan nasional, risiko ketidakpastian, dan potensi pemulihan ekonomi di tahun depan dengan catatan Covid-19 dapat terus dikendalikan, fungsi intermediary perbankan dapat kembali pulih, serta didukung oleh kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan sektor keuangan OJK yang kondusif.

Percepatan vaksinasi terhadap masyarakat Indonesia yang saat ini sedang didorong pemerintah, dipersepsikan sebagai sentimen positif oleh pelaku pasar. Rencana pemerintah dalam melakukan percepatan vaksinasi di Indonesia telah berada dalam jalur yang baik.

Sebagai gambaran, hingga akhir Juni 2021, pemerintah telah berhasil mencapai 42 juta vaksinasi Covid-19. Diversifikasi vaksin dari berbagai produsen untuk mempercepat vaksinasi juga telah dilakukan. Pemerintah Indonesia ke depannya diharapkan bisa mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan lain dari dunia kesehatan sehingga ketika terjadi pandemi Indonesia tidak lagi terbebani biaya impor vaksin.

Belajar dari kasus Covid-19, impor obat-obatan dan vaksin menunjukkan pengaruh cukup signifikan terhadap perekonomian nasional. Sebagaimana diketahui, sejumlah produk nonmigas memperlihatkan kenaikan impor yang besar pada Juli, meskipun impor secara total mengalami penurunan pada bulan tersebut. Vaksin menjadi salah satu penyumbang kenaikan terbesar.

Yang memberatkan penanganan Covid-19 adalah besarnya biaya penanganan pandemi ini. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, biaya langsung untuk menangani kasus Covid-19 di seluruh dunia tahun 2021 menyentuh angka USD 11 triliun atau Rp 158.400 triliun. Sedangkan pemerintah Indonesia di tahun 2021 lalu telah menganggarkan lebih dari Rp 744,75 triliun untuk penanganan langsung pandemi di negeri ini.

Sebagai informasi, tambahan biaya untuk membayar tagihan rawat inap saja bagi rumah sakit se-Indonesia yang merawat pasies Covid-19 telah menghabiskan dana Rp 94 triliun. Padahal, sebagian tagihan rumah sakit tersebut belum terbayar dan akan dibebankan pada anggaran APBN tahun 2022.

Vaksinasi nasional juga telah menghabiskan anggaran yang cukup banyak. Menurut sebuah sumber, anggaran untuk impor vaksin Covid di tahun 2021 lebih dari Rp 58 triliun. Langkah percepatan vaksin ini harus diambil untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia agar segera terbentuk imunitas semesta (herd immunity). Hasilnya cukup memuaskan. Di awal tahun 2022 ini, sudah lebih dari 77,7 persen penduduk Indonesia telah mendapat dosis pertama dan 54,8 persen dosis kedua.

Dengan adanya gelombang ketiga yang saat ini didominasi varian Omicron dengan tingkat penularan yang sangat tinggi, tentunya harus ditangani secara cepat. Konsekuensinya, makin banyak dana yang harus dialokasikan di APBN. Sedangkan kita tahu, salah satu sumber APBN sebagian didapat dari utang luar negeri yang semakin lama semakin meningkat, yang mencapai Rp 6.625,43 triliun dengan rasio utang terhadap PDB sebesar 40,84 persen. Sehingga mendapat kritik para ahli ekonomi tentang besarnya risiko utang bila terjadi guncangan ekonomi dunia.

Tahun 2022 akan menjadi fondasi konsolidasi dan reformasi. Konsolidasi fiskal diarahkan untuk menyehatkan makro fiskal dalam rangka akselerasi pemulihan ekonomi dan reformasi struktural. Melalui akselerasi pemulihan ekonomi, reformasi struktural, dan reformasi fiskal, diharapkan kebijakan fiskal tahun 2022 akan semakin efektif, prudent, dan sustainable.

Tantangan yang dihadapi saat ini tidak saja berkaitan dengan dampak yang dihasilkan oleh pandemi. Dunia, termasuk Indonesia pada saat yang bersamaan menghadapi ancaman perubahan iklim dan menurunnya kualitas dan daya dukung lingkungan. Ancaman-ancaman tersebut, jika tidak diatasi, dapat menjadi penghambat tercapainya pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan dalam jangka panjang, serta dapat memperbesar risiko dan biaya yang harus dikeluarkan dalam menghadapi krisis serupa dengan pandemi COVID-19 yang masih menjadi permasalahan hingga saat ini, bahkan yang lebih besar, di masa depan.

Oleh karena itu, otoritas kebijakan perlu mempertimbangkan pemanfaatan sumber daya dan kapasitas fiskal secara optimal untuk menghadapi krisis dan tantangan multidimensi dalam merumuskan strategi pemulihan ekonomi.

Dampak Vaksinasi Dalam Perekonomian di Indonesia

Apa dampaknya bagi Indonesia? Untuk menjawab itu, ada beberapa hal yang mungkin kita perlu perhatikan. Berdasarkan data IMF pemulihan ekonomi global timpang. Negara yang lambat dalam vaksinasi, yang terbatas dalam stimulus ekonomi, dan amat bergantung pada aktivitas turisme, akan lambat pulih. Sebaliknya, negara yang cepat dalam vaksinasi, yang punya ruang untuk stimulus ekonomi, lebih cepat pulih.

Tak heran apabila China dan AS memimpin. Di Eropa, program vaksinasi tak sebaik di AS. Di negara berkembang dan negara miskin, situasi lebih sulit lagi. Akses terhadap vaksin terbatas. Dalam hal ini, Indonesia relatif baik. Kita termasuk sepuluh besar negara dengan jumlah pelaksanaan vaksinasi tertinggi. Bahkan di antara negara nonprodusen vaksin, kita nomor empat. Mobilitas yang rendah mengganggu skala ekonomi sehingga Indeks Manajer Pembelian (PMI), kapasitas produksi, dan penggunaan tenaga kerja juga menurun.

Konsisten dengan itu, berdasarkan studi Office of the Chief Economist Bank Mandiri (OCE) menunjukkan, semakin tinggi mobilitas, semakin tinggi pula indeks belanja. Intinya, penurunan mobilitas sejalan dengan penurunan aktivitas belanja dan produksi. Temuan ini konsisten dengan laporan IMF bahwa pemulihan ekonomi akan banyak tergantung dari penyediaan vaksin.

Itu sebabnya, saya menduga akselerasi pemulihan ekonomi akan terjadi pada paruh kedua 2021. Alasannya, kepercayaan diri orang meningkat, orang mulai merasa aman dengan adanya vaksin, akibatnya aktivitas ekonomi mulai beranjak normal. Ini kabar baik. Namun, kita justru harus berhati-hati. Jika peningkatan mobilitas terjadi tanpa memperhatikan protokol kesehatan, ada risiko jumlah kasus positif akan kembali meningkat. Pemerintah Indonesia harus lebih agresif melakukan diplomasi untuk memastikan ketersediaan pasokan vaksin. Dalam hal ini kerja sama internasional menjadi sangat penting. Forum Presidensi G-20 bisa dimanfaatkan.

Tugas Kita Memberitakan Prestasi Putera Puteri Bangsa

Dalam menangani pandemi Covid-19 saat ini juga terjadi narasi pemberitaan yang kurang mendukung untuk berkembangnya vaksin buatan putera peteri Indonesia. Pihak Amerika Serikat dan Eropa selalu mengunggulkan temuan vaksin mereka dengan berbagai penjelasan ilmiah, dan memarginalkan vaksin temuan Indonesia. Hal ini dapat diketahui dengan mudah bagaimana obat-obatan asing bisa bebas masuk ke berbagai pasar farmasi di negeri, sebenarnya kita memiliki potensi untuk memproduksi produk obat-obatan sendiri.

Dominasi bahan baku obat di tanah air ini sudah disampaikan beberapa pejabat BUMN dan pemerintahan. Berdasarkan data PT Bio Farma (Persero) sebagai induk Holding BUMN Farmasi salah satunya, yang menyatakan industri farmasi di Indonesia tidak sehat. Karena lebih dari 90 persen bahan baku kita impor dari negara lain. Untuk itu, perlu keberpihakan pemerintah terhadap inovasi anak bangsa yang berupaya untuk berdaulat dan mandiri dalam bidang Kesehatan dan Ekonomi khusunya di bidang Farmasi, yaitu vaksin.

Yang diperlukan bangsa Indonesia saat ini adalah rasa kebanggaan terhadap prestasi bangsanya sendiri. Tidak harus menafikan berita negatif yang terjadi di negeri ini. Namun hal-hal positif tentang kita juga perlu ditonjolkan. Kalau pihak asing tidak berkehendak memberitakannya, maka itu tugas kita anak bangsa yang memberitakannya.

Di kampus Universitas Airlangga kita menyaksikan banyak karya para penelitinya yang menghasilkan temuan penting di berbagai bidang terutama di bidang Kesehatan dan juga Vaksin yakni Vaksi Merah Putih. Kesimpulannya Kita Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi Negara yang berdaulat dan mandiri di Bidang Kesehatan dan Ekonomi di Masa Depan.

*Penulis adalah Awardee LPDP RI 2021, Mahasiswa S-2 Magister Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan 2021 Universitas Indonesia.

Share this…
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*