Kondisi Culture Shock Pada Perubahan Sistem dari Daring ke Tatap Muka

Oleh Ticka Herawati Azizah, S.Pd *)

Covid-19 yang diumumkan oleh pemerintah mengenai kasus wabah pertama Indonesia pada bulan Maret 2020 yang dihadapkan sebuah pandemic dan berdampak pada semua sector yang ada di Indonesia termasuk pendidikan. Wabah yang melanda menjadikan berbagai dampak pada semua sektor yang ada di Indonesia termasuk sektor pendidikan. Dampak yang terjadi kepada pendidikan yang langsung diberitahukan oleh mentri pendidikan bahwa pembelajaran akan dilakukan secara online. Pembelajaran yang setiap hari tatap muka dengan guru dan siswa tiba-tiba semuanya menjadikan pembelajaran melalui online.

Perubahan yang secara tiba-tiba membuat siswa mengalami shock yang terjadi bahwa pembelajaran akan online begitu juga guru yang ada di sekolah. Perubahan yang terjadi dikarenakan wabah covid-19 yang melanda membuat pembelajaran selama 2 tahun tanpa interaksi. Pada tahun 2022 pembelajaran mulai dilakukan secara perlahan-lahan untuk melakukan pembelajaran tatap muka yang di awal 50% sampai ke 100% dengan melihat daerah ketingkata wabah yang tinggi.

Pembelajaran daring ke tatap muka wabah yang melanda selama lebih dari 1 tahun membuat guru dan peserta didik harus bisa adaptasi dengan perubahan pembelajaran secara daring atau online.

Perubahan tersebut membuat menjadi sebuah kebiasaan untuk belajar lewat online dan tugas bisa di kirim secara online dengan adaptasi yang harus cepat ketika wabah ini. Tahun 2021 wabah yang terjadi mulai mengurang dan kelonggaran yang awalnya begitu ketat membuat longgar kembali. Kelonggaran tersebut juga dirasakan lingkungan pendidikan.

Pendidikan yang tidak bisa hanya online dalam mendidik peserta didik membuat sebuah perubahan dalam pembelajaran setiap waktu. Kelonggaran tersebut membuat pembelajaran yang awalnya hanya 50% untuk masuk dan 50% lainnya daring atau sistem bergantian dalam pembelajaran yang dilakukan. Sistem bergantian untuk masuk ke sekolah tatap muka dianggap berhasil dan wabah covid-19 semakin menurun menjadikan kebijakan baru dari dinas pendidikan bahwa pendidikan bisa dilakukan secara tatap muka total dengan syarat wilayah atau daerah tersebut sudah hijau.

Pendidikan ketika awal semester 2021 pembelajaran sudah mulai dengan tatap muka lagi namun dengan prokes yang ketat ketika bersekolah. Perubahan pembelajaran tersebut sangat dirasakan oleh guru dan peserta didik yang awalnya dipaksa untuk bisa melakukan daring tiba-tiba harus ada perubahan kembali ke tatap muka. Perubahan tersebut dalam pembelajaran peserta didik maupun guru harus secara cepat dalam beradaptasi dengan pendidikan yang terjadi.

Apakah Pembelajaran Daring Lebih Efektif dari Pembelajaran Tatap Muka ? Mana yang lebih efektif pembelajaran yang terjadi untuk saat ini ?

Pembelajaran akan lebih efektif ketika penempatan pendidikan tepat dan memerlukan dengan pendidikan secara online. Misalkan ketika mahasiswa S1 dan S2 diberikan pembelajaran daring namun ternyat yang lebih membutuhkan daring pembelajaran lebih efektif ke S2.

Pembelajaran secara daring S2 dapat melihat artikel dan jurnal secara cepat ketika membuat diskusi dan benar-benar diperlukan untuk bahan diskusi dan penemuan yang terbaru. Sebaliknya ketika S1 pembelajaran daring akan membuat kurang efektif dan masih belum memerlukan daring dalam pembelajaran. Bahan diskusi masih bisa memakai buku yang ada atau hanya sekedar pembelajaran pencarian bahan tambahan dengan jurnal.

Pembelajaran tersebut juga diperlukan dan lebih efektif ketika daring untuk anak SMA dan masih kurang membutuhkan dengan anak SD. Pembalajaran semuanya diperlukan dengan keeftifan dan apa yang tepat untuk diberikan oleh siswa pada saat ini. Daring semua untuk anak SD masih belum membutuhkan ketika pembelajaran full daring karena materi tidak ada saling komuniksi ketika melalui daring berbeda dengan tatap muka untuk anak SD. Semua memerlukan sebuah kepentingan yang lebih tepat dan sesuai kebutuhan dalam jenjang pendidikan karena pastinya akan berbeda.

Penyesuaian siswa dalam perubahan pembelajaran
Penyesuaian peserta didik dalam perubahan pembelajaran dapat mempengaruhi dalam gaya belajar peserta didik dari daring ke tatap muka. Penyesuaian yang dilakukan dalam pembelajaran agar bisa mengerjar pembelajaran. Perubahan tersebut sangat diperlukan dalam pembelajaran saat ini. Perubahan tersebut menjadikan peserta didik dan guru bukan hanya di zona nyaman dalam belajar yang dilakukan.

Penyesuaian tersebut bisa dari gaya belajar peserta didik yang pasti akan berbeda ketika sebelum pandemic, ketika pandemic dan setelah pandemic. Gaya belajar yang dilakukan peserta didik menjadi lebih kreatif dan inovatif belajar pada peserta didik. Perubahan pembelajaran yang terjadi secara tiba-tiba membuat siswa harus beradabtasi lagi. Pembelajaran yang membuat 2 tahun lebih di rumah dengan pembelajaran yang tidak ada waktu lebih membuat siswa terbiasa lebih banyak di rumah dan lebih banyak bermain ketika pandemik.

Pembelajaran yang banyak waktu tersebut membuat siswa ketika harus tatap muka lagi merasa bosan dan ingin hanya bermain. Tugas yang biasa online dan tidak ada target sekarang ada target lagi yang tiba-tiba mereka sudah naik jenjang yang lebih tinggi. Kenaikan kelas tersebut yang tanpa dirasakan membuat siswa lupa bahwa semakin tinggi kelasnya akan tugas semakin tinggi. Pendidikan wabah yang selama 2 tahun tersebut membuat emosional siswa perlu untuk ditingkatkan lagi dan semangat dalam pembelajaran yang normal kembali seperti dulu perlu untuk ditingkatkan kembali. (*)

*Ticka Herawati Azizah, S.Pd, PPG Prajabatan Bimbingan Konseling Universitas Ahmad Dahlan.

Share this…
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*