Refleksi Kemerdekaan ke-77, Keadaban Politik Sebagai Upaya Merajut Bingkai Demokrasi

Oleh Arsian Inggang Dwi Nanda *)

Kontestasi Pemilihan presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2024 seyogyanya dipersiapkan secara matang, khususnya untuk calon pemimpin masa depan Indonesia. sehingga menghasilkan kontestasi dengan menjunjung tinggi asas demokrasi.

Pemimpin ideal masa depan Indonesia bukan hanya memiliki kriteria strong leader, tetapi juga harus seorang visioner dengan gagasan visi misi yang berimplikasi terhadap kemajuan bangsa dan mampu menjaga martabat Indonesia di dunia internasional. salah satunya seperti bapak proklamator Bung Karno yang mampu mengakat kondisi bangsa terjajah menjadi bangsa yang merdeka serta mempunyai bargaining di kancah internasional.

Kita harus optimistis bahwa, partai politik mementingkan kepentingan bangsa dan Negara secara berkelanjutan. politik itu harus memiliki dua dimensi, dimensi manusiawi dan ilahi. Kongkritnya, politik itu panggilan etis guna terwujudnya kesejahteraan umum, oleh karena itu semua elite politik harus mewujudkan nilai yang terkandung dalam pembukaan Pancasila dan UUD 1945 dalam setiap manifestasinya.

Partai politik harus mampu memberikan pokok gagasan etika serta pendidikan politik kepada masyarakat, begitu juga rakyat harus menegaskan kembali makna berpolitik secara santun serta mengedepankan etika. Politik adalah garis perjuangan bersama untuk membangun Indonesia menjadi Negara maju dan sejahtera.

Ke depan, partai politik harus mampu menciptakan keadaban politik, esensinya keadaban politik menjadi pilar dan panglima besar karena tanpa itu politik akan bersinggungan dengan perpecahan serta propaganda yang berdampak akan lahirnya konflik.

Tanpa keadaban, politik menjadi mahal. Sebagai ajang seremonial lima tahunan yang melahirkan banyak faksi. tanpa keadaban politik, demokrasi yang kita eluh-eluhkan juga akan terjungkal karena rentan akan kepentingan golongan.

Menurut Plato (427 SM-347 SM) jauh-jauh hari sudah mengatakan, seyogyanya seorang politikus itu lahir dari manusia “kepala” bukan manusia “dada”. Jika dielaborasi manusia kepala adalah orang-orang bijak yang mementingkan isi dari pada bungkus. Sedangkan manusia dada adalah orang yang lebih mengandalkan fisik, haus citra dan kekuasaan.

Tentu pandangan Plato di atas sangat penting untuk direnungkan, khususnya bagi parpol dalam memilih kader. Sebagai pilar demokrasi, parpol harus bisa mencetak kader terbaik untuk bangsa ini. Idealnya, parpolah yang membesarkan figur, bukan figur yang membesarkan parpol. Untuk itu, parpol harus melakukan kaderisasi mulai tingkat bawah untuk melahirkan kader yang berkualitas.

Sebagai kawah candradimuka, parpol memiliki peran esensial dalam membawa arah mata angin kehidupan berbangsa. selayaknya parpol harus mampu mengamalkan gagasan tri sakti bung karno, berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Gagasan founding father itu akan terlaksana apabila politik keadaban, jika orientasi tersebut dijalankan maka potensi konflik antar parpol dan elite sangat kecil karena akan mengedepankan nilai demokrasi dalam mencari suara rakyat.

Refleksi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus dapat diaktualisakan dalam esensi keadaban politik sebagai upaya merajut bingkai demokrasi. Gagasan semua stageholder diperlukan untuk menciptakan polarisasi merajut semangat kebangsaan dalam segala sektor, masyarakat hendaknya memiliki kesadaran politik yang tinggi sebagai sarana untuk menciptakan keadaban politik.

Demokrasi sebagai kognitif dan evaluatif membuka keterbukaan untuk elemen masyarakat untuk berkecimpung serta belajar memaknai kaidah demokrasi secara ideal. Untuk itu, seluruh stakeholder diharapkan bersama sama dalam menjaga intergritas dan moralitas dalam bingkai demokrasi secara sustanaible.(*)

*Penulis adalah Tenaga Ahli DPR RI.

Share this…
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*